“Tut Wuri Handayani”
adalah sepotong falsafah Jawa yang kira-kira berarti ‘dari belakang memberi dorongan’, dipopulerkan oleh Ki Hadjar Dewantara sang Bapak Taman Siswa sebagai bagian ketiga prinsip pendidikannya. Inilah satu-satunya bagian kalimat yang masih utuh terpakai menghiasi logo-logo sekolah, sementara dua yang lain hanya tersingkap setahun sekali kala ucapan Hari Pendidikan Nasional mewarnai media sosial.

“Tut Wuri Handayani” adalah perwujudan usaha pendobrakan struktur, karena Ki Hadjar Dewantara yang terpengaruh oleh reformis pendidikan Eropa macam Maria Montessori (yang kini namanya dipakai di jaringan sekolah multinasional nan elit) percaya bahwa keberhasilan mendidik anak-anak bukanlah dicapai dari ruang kelas yang terlalu diatur. Anak-anak dibiarkan menjelajah dan belajar sendiri, dalam batas seluas-luasnya selama tidak merugikan atau membahayakan diri sendiri dan orang lain, sementara para guru memberi bimbingan seperlunya dan membantu jika dibutuhkan.

Ya, sejak sebelum kemerdekaan, di Indonesia sudah dirintis sistem pendidikan yang tidak jauh berbeda dari Finlandia sekarang. Finlandia yang itu, yang disegani dunia karena pencapaiannya dalam restrukturisasi kurikulum pendidikan mengalahkan negeri-negeri yang lebih besar dan pongah.

Apa yang terjadi dalam dekade-dekade selepas proklamasi sampai metode pendidikan progresif yang diperkenalkan di Indonesia sejak awal kini malah jadi dagangan sekolah swasta bertarif mencekik?

“Tut Wuri Handayani” sekarang tinggal slogan manis yang tersematkan pada seragam warisan lampau, karena mereka yang berwenang jelas tak repot menggantinya bahkan ketika prinsip pendidikan kita telah jauh melampaui kalimat itu. Kini, biar nama kurikulum berganti, siswa tetap dicekoki sekian materi, sedari dini dikenalkan bukan pada pesona ilmu namun kesaktian nilai rapor dan peringkat semu. Guru-guru tak dapat lagi mengoreksi siswanya yang terlindung atas nama hak asasi. Sekolah dapat memaksa murid memilih perguruan tinggi yang tak sesuai pilihan hati, hanya agar dapat mengklaim namanya dalam deretan prestasi. Hobi dan pengembangan diri? Puih, hanya pelengkap pemuas diri, jangan buang-buang waktu untuk yang tak pasti!

“Kalau kita membiarkan anak-anak mengembangkan hobi, nanti kita tidak maksimal mempersiapkan diri untuk sekolah favorit, ujian nasional dan penerimaan perguruan tinggi.”
Maka biarlah kita pura-pura mengerti, pura-pura memahami. Setelahnya, kita akan salahkan mereka yang lulus hanya bermodal ijazah, tanpa kenal kemampuan dan minat dalam diri.

Agustus mendatang, di awal musim ajaran baru selepas liburan panjang, kaki-kaki kecil akan melangkah memasuki gerbang sekolah tempat mereka menghabiskan waktu sepanjang hari, mengenakan seragam dengan tulisan yang kita hafalkan namun belum tentu pahami.

“Tut Wuri Handayani”!

-Sepenggal catatan yang terinspirasi dari “Pahlawan-Pahlawan Belia” karya Saya Sasaki Shiraishi. Bukunya sendiri bukan tentang pendidikan, namun konsep keluarga Indonesia dalam politik Orde Baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *