Interaksi manusia dan komputer pada mulanya berbasis teks karena keterbatasan teknologi. Seiring perkembangan zaman, antarmuka visual yang lebih mudah dan intuitif mulai menggantikan antarmuka teks, menggesernya ke tangan para penggiat teknologi dan panggung Hollywood. Kita sudah sampai di era baru: antarmuka berbasis suara. Perusahaan teknologi terkemuka berlomba-lomba mengeluarkan produk yang dapat menangkap perintah audio dan meneruskannya pada gawai-gawai teknologi lain yang anda miliki.

Antarmuka berbasis sentuhan tidak pernah sampai pada khalayak ramai dan kebanyakan dibandrol dengan harga tinggi, dipasarkan hanya pada kalangan tunanetra. Sementara, antarmuka berbasis pikiran masih jadi ranah produk mainan (novelty items) daripada temuan praktis. Satu lagi antarmuka potensial yang satu dekade belakangan ini berkembang luas di kalangan penikmat permainan video adalah antarmuka berbasis gerakan. Antarmuka berbasis aroma? Peneliti masih mencoba.

Semestinya ragam antarmuka ini memberikan kemungkinan lebih luas bagi pengguna untuk berinteraksi dengan sistem digital mereka, namun patut diperhatikan bahwa pengembangan antarmuka komersil tidak berjalan bersamaan untuk semua jenis masukan, dan tersandung pada batasan-batasan biaya produksi dan viabilitas bisnis. Karena itu, dominasi suatu antarmuka dapat menghalangi aksesibilitas kalangan tertentu, seperti polemik yang baru-baru ini melanda konsol terbaru Nintendo, Switch. Bila konsol permainan terasa remeh, pikirkanlah bila rumah-rumah di masa depan sepenuhnya terhubung hanya pada sistem kendali suara.

Inilah pentingnya menyediakan antarmuka alternatif pada sistem. Variasi antarmuka yang didukung sebuah sistem juga akan memperluas kemungkinan adaptasi, seperti ketersediaan program text-to-speech dan Braille digital. “Lah, ini sudah jelas, tidak usah diberitahu!” Seperti disebutkan dalam paragraf sebelumnya, ada waktunya sebuah entitas ekonomi mesti memilih antarmuka jenis apa saja yang sanggup mereka dukung. Dalam usaha efisiensi dana, aksesibilitas bisa jadi dikorbankan. Apa yang bisa disediakan teknologi bisa pula direbut teknologi.

Dalam berinovasi kita mesti terus berpikir. Apakah teknologi masa depan akan jadi lebih inklusif, atau malah eksklusif?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *