Others, Writings

Pers Mahasiswa Sebagai Penjaga Elemen dan Kode Etik Jurnalistik

Sebuah esai yang saya tuliskan untuk Boulevard ITB pada tahun 2016, dan nampaknya tak lapuk dimakan waktu.


1. Antara News dan Views

Pada suatu masa, Bill Kovach memperkenalkan ‘Elemen-Elemen Jurnalistik’ dalam buku yang ditulisnya. Segera, tulisan ini menjadi populer, sebuah pilar de facto bagi banyak insan pers di seluruh dunia. Isinya dibaca, diserap, diingat dalam hati, dijadikan materi pelatihan untuk wartawan-wartawan baru. Elemen-elemen jurnalistik menawarkan panduan bagi setiap penggiat jurnalistik untuk membuat liputan yang bermutu, dan berlaku secara umum tak peduli topik apa yang diliput. Namun, tidak sampai dua dekade dari terbitnya buku ini, ranah pers sudah berubah sedemikian rupa.

Dengan satu sentuhan, berita dapat diakses dan dibagikan. Dengan satu sentuhan, berita dapat dikritisi. Ya, inilah tahun 2016. Dengan lahirnya jurnalisme warga, dunia yang kita diami saat ini seolah tidak butuh profesi wartawan untuk membawakan berita secara eksklusif. Cukup bermodal gawai dengan akses internet, semua orang bisa ‘jadi wartawan’. Sebaliknya, garis pemisah antara berita dan selentingan hiburan menjadi teramat tipis.

Jurnalistik – yang erat hubungannya dengan media cetak, memang mengalami masa-masa sulit. Banyak media yang tak mampu bertahan ketika era digital melanda. Tidak kurang dari selusin produk koran dan majalah di Indonesia tutup dalam tiga tahun terakhir. Sebagian bahkan memiliki nama besar untuk memayungi mereka, seperti Kompas-Gramedia, namun tak luput menjadi mangsa dunia baru.

Tak seperti radio dan televisi yang akhirnya berbagi keberadaan dengan media cetak, internet seolah melahap pundi-pundi penyokong keberadaan media konvensional. Tidak perlu lagi berpeluh-peluh menunggui revisi berita hingga tengah malam ataupun memburu materi ke percetakan. Dalam bentuk digital, kini berita siap diperbaharui, diperbaiki, diubah kapan saja. Mengenai hal ini, beberapa wartawan senior bahkan sudah menggaungkan ‘senjakala media cetak’, meski beberapa wartawan lain membalas dengan tulisan tandingan.

Melihat maraknya pemberitaan yang dilakukan sembarangan oleh beragam media belakangan ini, mungkin terlintas di benak apakah poin-poin Kovach masih relevan. Memang, media cetak yang kalah saing biasanya mengejar kehidupan baru secara daring, meniru media-media yang sebelumnya telah lebih dulu sukses. Jadilah insan-insan pers kita terobsesi dengan angka, statistika, dan segala hal nan sensasional yang lebih mendatangkan keuntungan daripada idealisme semata. Beberapa media daring mengakui bahwa produksi berita ‘sampah’ kerap mereka lakukan agar menarik pengunjung, sehingga pihak redaksi dapat membiayai liputan yang sungguh-sungguh berkualitas. Yang menyedihkan, beberapa kanal berita daring yang memanggul nama media cetak bermutu pun tak luput dari degradasi kualitas ini.

Sebenarnya, kondisi ini tidaklah baru. Rizal Mallarangeng, dalam skripsinya tahun 1990 untuk jurusan Ilmu Komunikasi UGM yang kemudian dicetak menjadi buku ‘Pers Orde Baru’, menuliskan paragraf berikut tentang kecenderungan media di tengah kerasnya persaingan pada paruh terakhir 1980-an:

“Masuk akal jika dalam situasi demikian pers nasional sangat rentan terhadap godaan ‘demi tujuan mempersetankan cara dan akibat’. Hanya demi menggetarkan dawai-dawai primitif (seks, sadisme, crime) dalam nada-nada yang sensasional dan vulgar agar dapat mencapai pangsa pasar yang luas, sikap kritis terhadap modal melunak dan ketakutan untuk mengikuti kebenaran berlangsung. Ini adalah sekadar contoh godaan yang akan terus melekat dalam kehidupan pers kita di masa datang. Secara singkat barangkali dapat dikatakan bahwa yang terjadi pada pers kita sekarang ini adalah makin kuatnya dorongan yang inheren dalam kapitalisme: kompetisi untuk menuju komersialisasi.”

Kecenderungan inilah yang meledak tak terkendali kala pelaku industri seolah dihadapkan pada dilema: ikuti atau mati!

Di Indonesia sendiri kita mengenal adanya Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Senada dengan Elemen-Elemen Jurnalistik, KEJ disusun agar wartawan dapat fokus dan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya. KEJ mempunyai dasar hukum, yakni UU Pers No.40 tahun 1999.

Nasib KEJ saat ini mungkin kurang-lebih sama dengan Elemen-Elemen Jurnalistik. Kalaulah kita menggunakan standar ini untuk mengulas berita-berita yang kita temui sehari-hari pada kanal-kanal daring, berapa banyak yang dapat lolos? Permainan simbol agama, nasionalisme semu, judul bombastis, substansi ala kadarnya, semua demi menghamba pada angka-angka kunjungan. Parahnya lagi, raksasa media, segelintir tersisa yang dapat bertahan hidup, kini bergelimang nuansa politik. Begitulah, opini publik disetir, profesi wartawan cemar.

2. Media boleh bias, asal tetap mengungkapkan fakta

“Orang yang tak membaca apapun sama sekali lebih terdidik daripada yang hanya membaca koran,” sebut mantan presiden Amerika Thomas Jefferson. Mantan presiden Amerika yang lain, Woodrow Wilson, tercatat pernah berkata,”Saya begitu terbiasanya melihat sesuatu diberitakan serampangan sehingga tak lagi dapat mempercayai apapun yang saya baca dalam koran.”

Kedua tokoh tersebut sebelumnya merupakan pendukung kebebasan pers, yang menjadi pahit sikapnya setelah pers memporak-porandakan kepercayaan itu. Kini, yang terjadi adalah sebaliknya. Kepercayaan terhadap pers jatuh sejatuh-jatuhnya dari sisi konsumen.

Sehari-hari, saya mendengar teman-teman, kolega, dan anggota keluarga yang mengejek kualitas berita yang mereka temui. Tak jarang, mereka terang-terangan menghina pers, yang mereka anggap tak punya etika. Ketika disodori Elemen-Elemen Jurnalistik dan KEJ, orang-orang itu meragu. Toh, kenyataan di lapangan seolah bicara berbeda.

Sungguh, ini keadaan yang seharusnya membuat kita terenyuh. Sedari muda kita telah diajarkan bahwa profesi wartawan adalah profesi yang mulia. Kuli tinta yang menjunjung tinggi harkat martabat dalam mendapatkan dan menyajikan berita. Walau terlihat mudah, menjadi wartawan tidak seremeh itu. Butuh waktu dan kerja keras. Fakta ini terasa sulit dipercaya kalau melihat berita politik yang tak ubahnya infotainment kelas dua atau judul berita yang tak sesuai isinya.

Hanya saja, kadangkala, apabila berpikir sejenak, di sisi lain kita mau tak mau menerima bahwa memang sejatinya lembaga-lembaga ini bersifat komersial, bukan nirlaba. Mereka takkan hidup oleh idealisme semata. Media-media yang bersikukuh memegang prinsip, satu persatu gugur tak bersisa. Begitupun wartawannya, yang menggantungkan hidup pada carikan gaji yang seringkali tak seberapa.

3. Tanggung jawab tanpa ikatan, sikap tanpa belenggu

Ada semacam romantisme pada gerakan mahasiswa, pada kenaifan untuk mempercayai bahwa ada hal besar yang bisa dilakukan remaja-remaja tanggung dan dewasa muda yang belum terkungkung oleh kerasnya dunia luar. Dalam kasus ini, mungkin kepercayaan itu tidak sepenuhnya salah.

Ivor Gaber, seorang peneliti media dari Universitas Bedfordshire dan mantan wartawan, pernah mencoba merumuskan Elemen-Elemen Jurnalistik baru pada 2008. Tulisannya mencoba mencakup ranah lebih luas, melingkupi tulisan nonformal seperti blog dan laman pribadi. Namun, salah satu komentarnya yang paling menarik adalah pada pasal kebenaran.

Menurutnya, penulis blog, halaman anonim, dan sebagainya, kini punya independensi yang memungkinkan mereka menulis lebih terbuka daripada media besar. Hanya saja, sulitnya melacak dan memverifikasi laman-laman ini tentu mengurangi kredibilitas mereka dalam kutipan resmi. Masih diperlukan kejelian dan literasi media yang mumpuni untuk memisahkan fakta dari sampah.

Bukankah di sini media mahasiswa semestinya berperan? Media mahasiswa punnya fleksibilitas blog

dipadu kredibilitas institusi. Kebanyakan media mahasiswa masih mendapatkan pendanaan dan dukungan dari institut yang menaunginya, sehingga mereka dapat mengejar akurasi semaksimal mungkin. Mereka tidak harus menggantungkan nasib pada siapa-siapa. Bahkan, karena anggota-anggotanya biasanya bersikap sukarela, ada keleluasaan melimpah bagi pers mahasiswa untuk tetap menjunjung Elemen-Elemen Jurnalistik dan KEJ, menulis berita seberani dan semenggigit mungkin.

Semestinya, kelompok-kelompok pers mahasiswa tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk popularitas, walau godaannya, di masa penuh eksistensi dan aktualisasi diri ini, terlihat kuat. Pers mahasiswa, dengan anggotanya yang masih berstatus pelajar, punya ‘hak’ untuk berbuat salah, memperbaiki diri, dan terus melangkah. Juga, sebagai mahasiswa, anggota pers mahasiswa biasanya berasal dari bidang ilmu berbeda, yang dapat memberi warna lebih pada topik yang mereka bahas.

Posisi pers mahasiswa sebagai lembaga yang taat etika dan tanggung jawab profesi juga diharapkan menjadi ajang pendidikan bagi calon-calon wartawan muda. Ditilik dari sejarah, banyak pewarta yang telah memulai karir mereka dari jenjang sekolah. Dalam masa inilah kita dapat menempa diri untuk segenap hati setia pada kualitas pemberitaan.

Berkaca pada pengalaman pribadi sekaligus contoh kasus, saya merasa usaha Boulevard ITB untuk memperkenalkan materi-materi ini sebagai langkah yang baik. Setidaknya, tiap calon wartawan akan terpapar pesan bahwa pekerjaan yang mereka emban punya beban tersendiri. Dalam pemilihan berita pun pihak redaksi berusaha agar menekan bias serendah mungkin, atau setidaknya mencapai sisi sebanyak mungkin.

Saya tidak ingin muluk-muluk ataupun menipu diri. Usaha tidak selalu berbanding dengan hasil. Ketika saya bertugas sebagai wartawan sekolah di Riau Pos dahulu pun, sebenarnya kami pun mendapat gemblengan terkhususnya dalam Kode Etik Jurnalistik. Namun, tetap saja berita yang masuk banyak menyalahi aturan, dan tetap diterima, demi pemenuhan halaman yang mesti naik cetak. Honor yang rendah membuat para wartawan menulis sebanyak-banyaknya untuk mencapai nominal ‘cukup’. Ingat, pers mahasiswa tidak punya batasan ini!

Begitupun, dalam pengalaman saya, selepas pelatihan awal, Boulevard ITB mengasumsikan bahwa awak redaksi telah paham betul dalam bekerja, sehingga terkesan lepas tangan dengan pewarta yang mungkin belum memahami dengan utuh materi kode etik yang disampaikan sebelumnya. Atau, belum dapat melihat implementasinya dalam peliputan. Di sini, ada celah yang bisa ditambal, misalnya dengan mengadakan pelatihan tambahan atau waktu refleksi bersama dalam rapat redaksi.

Pers mahasiswa yang sudah ‘rapi’ dan punya awak cukup dapat mempertimbangkan untuk mengulurkan tangan membantu media-media lainnya, setidaknya dalam institusi yang sama. Beruntunglah bagi ITB, dalam kampus sekecil ini terdapat banyak media kampus yang cukup berumur. Saat ini, ada kecenderungan untuk tiap lembaga dalam kampus membuat media mereka sendiri, sehingga permintaan bimbingan biasanya akan masuk dari waktu ke waktu ke salah satu dari dua unit kegiatan yang memusatkan diri pada gerakan pers mahasiswa. Seterusnya, bila dalam kampus dirasa sudah dapat diraih, lembaga pers mahasiswa dapat mencoba merangkul kelompok-kelompok luar kampus, menularkan sikap pers yang sesuai etika.

Bagi saya, ini pun sebentuk perjuangan, walau tidak glamor seperti turun ke jalan. Saya mengharapkan hal-hal kecil ini untuk kelak dapat membuat kita merasa bangga membusungkan dada untuk menjawab,”Ya, saya seorang jurnalis.”

Tentu, pers mahasiswa tidak lepas dari tantangan. Masih banyak yang memandang pers mahasiswa sebelah mata, bukan badan resmi yang punya otoritas. Selain itu, konflik kepentingan masih mungkin terjadi dengan institut induknya. Namun, sekali lagi, tiap penggiat pers mahasiswa mesti melihat potensi yang mereka pegang, setidaknya untuk semangat berkembang.

Seperti kata Henry Anatole Grunwald, “Jurnalisme takkan pernah diam: inilah sisi terbaik dan terburuknya.” Majulah pers mahasiswa, jadilah penopang kebenaran!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *