Tulisan ini adalah versi bahasa Indonesia dari esai yang sebelumnya dipublikasikan di sini, diterjemahkan atas permintaan Al-Khansa Rodhiyah. Esai ini masih memiliki ketidaksempurnaan seperti esai aslinya dan belum memuat pembaharuan seperti munculnya jurusan Sains Atmosfer dan Keplanetan di ITERA serta perkembangan pembangunan Observatorium Nasional di Kupang. Semua referensi yang tercantum amat layak dibaca bagi siapapun yang tertarik atas bahasan ini, namun jikalau tidak dapat menyempatkan diri, penulis menyarankan agar setidaknya membaca “Under a Tropical Sky: A History of Astronomy in Indonesia” dan “The Emergence of Astronomy and Astrophysics in Indonesia”.


Prakata

Astronomi adalah salah satu ilmu tertua di dunia, berakar dari sadarnya manusia akan peran besar benda-benda langit dan pergerakannya dalam kehidupan. Meskipun perkembangannya di masa kini seringkali membuat orang memikirkan hal-hal rumit nan eksotis nun jauh di sana, penelitian astronomi sejatinya didasari oleh keperluannya dalam keseharian masyarakat. Sejarah astronomi di Indonesia merupakan rangkaian kisah menarik tentang perkembangan budaya keilmuan sekaligus pengingat mengenai harapan manusia untuk senantiasa mencari tempatnya dalam alam semesta.

Kejadian-kejadian monumental dalam suatu bidang ilmu tertentu seringkali sulit dicerna oleh pembaca awam karena konteksnya terceraikan. Pendekatan seperti ini hanya berguna di kalangan peneliti, namun tidak efektif dalam menggambarkan dampak bidang tersebut pada dunia yang lebih luas. Esai ini bertujuan untuk menghubungkan sejarah Astronomi di Indonesia dengan sejarah Indonesia secara keseluruhan untuk menghilangkan stigma mengenai bidang ilmu yang asing dan jauh, sebaliknya memperkenalkan bahwa Astronomi sejatinya adalah bidang yang begitu lekat dan akrab dengan kehidupan masyarakat.

Masa Prakolonial (300-1500 M): Tahta Sang Dewata

“Ketika de Houtman sampai di pesisir Aceh, pengetahuan perbintangan di kepulauan Indonesia telah menjadi makanan sehari-hari petani dan pelaut sejak lama.” (Hidayat, 2000). Rasa ingin tahu tentang langit dan isinya telah berlangsung sejak zaman lampau. Cerita-cerita rakyat berkembang untuk menjelaskan fenomena dan sifat benda-benda langit, petunjuk tentang waktu dan musim jadi warisan turun-temurun. Astronomi begitu dekat dengan keseharian dan budaya lokal.

Karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang mewadahi ribuan suku dan budaya, selayaknya masing-masing mendapatkan porsi tersendiri. Sesungguhnya, tidaklah elok untuk menarik sebuah simpulan umum dari variasi yang begitu tinggi, namun cukuplah dikatakan bahwa leluhur kita piawai dalam memanfaatkan langit berbintang sebagai pemandu mereka dalam beragam aspek hidup: dari pertanian, pelayaran, hingga penujuman nasib. Menarik bahwa ada satu hal utama yang membedakan Indonesia dari begitu banyak budaya lain di dunia: masyarakat Indonesia tidak begitu memedulikan matahari dan garis cakrawala, sebab matahari selalu berada di sekitar posisi yang sama dan bentang alam kita demikian beragamnya; dengan bukit, lembah, gunung, sungai, lautan yang mencuat dan merunduk di sana-sini, cakrawala bukanlah petunjuk yang dapat diandalkan (Ammarell, 1998).

Ada sebuah inisiatif yang diluncurkan pada tahun 2009 dalam lokakarya ‘Bintang-bintang Asia’ yang mengumpulkan setidaknya dua puluh cerita rakyat yang berkaitan dengan kejadian astronomis (Pramesti, 2009). Sebuah tim dari Observatorium Bosscha kemudian melakukan perjalanan menyeberangi kepulauan Indonesia untuk tujuan yang sama dan memamerkan hasil penelitian mereka pada acara DOMEFESTA IFSV2015 di Fukushima, Jepang dari 23 September hingga 26 September 2015. [1]

Berdasarkan cerita-cerita rakyat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa di era sebelum kesultanan Islam, benda langit seringkali dipandang sebagai sosok sakral oleh masyarakat. Hal ini kemungkinan didukung oleh sifat panteisme dalam budaya Hindu-Buddha. Banyak cerita rakyat bahkan sama persis dengan mitos India, sekali lagi dampak dari luasnya persebaran ajaran Hindu-Buddha. Beberapa artefak berukirkan motif astronomis juga ditemukan dari masa ini, misalnya Mintaqulburuj, bejana air dari suku Tengger yang menggambarkan zodiak (Yamani, 2008).

Raja-raja kuno gemar memamerkan kemegahan kekuasaannya melalui pembangunan situs berskala besar. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa kuil dan candi Hindu-Buddha ternama di Indonesia dibangun dengan rencana dan tapak rinci dan berfungsi praktis sebagai semacam kompas astronomis. Candi Borobudur dan Prambanan adalah kompleks yang paling banyak diteliti. Penempatan patung, gerbang, serta candi kecil di wilayah ini diatur sedemikian rupa dengan mempertimbangkan arah matahari serta perhitungan lain untuk menandai kejadian seperti ekuinoks (Hariawang et al., 2010).

Mengenai satu aspek penting kehidupan, sang waktu, Indonesia memiliki lusinan sistem kalender. Mungkin lebih, mengingat setiap daerah dan suku menyusun kalender mereka sendiri berdasarkan kebutuhan dan kepercayaan setempat. Kebanyakan kalender ini digunakan untuk menyokong petani dan nelayan. Diantaranya, yang cukup terkenal dan masih terdengar hingga kini adalah kalender Bali dan kalender Jawa. Keduanya masih digunakan meskipun hanya dalam keperluan ritual dan mulai punah karena dominasi kalender Gregorian di abad 21. Beberapa peneliti menemukan jejak warisan sistem perhitungan matematis kalender India dalam kedua sistem kalender ini.

Setelah ajaran Islam menyebar di tanah air, keperluan pengukuran astronomis yang presisi bergeser untuk menemukan arah kiblat dan menghitung tibanya hari raya (Hidayat, 2000). Kalender Islam didasarkan pada pergerakan bulan, dan ini mempengaruhi beberapa sistem kalender lokal yang sebelumnya mendasarkan perhitungan mereka pada benda langit yang lain [2]. Bahkan pada zaman ini penduduk sudah mampu melakukan perhitungan astronomi yang lumayan rumit seperti prediksi gerhana dengan akurasi yang cukup tinggi (Gomperts, 1998).

Masa Kolonial (1500-1942 M): Garis Depan Pengamatan Langit Selatan

Masa ini mungkin adalah masa paling penting dalam sejarah astronomi Indonesia, sebab ketertarikan Belanda terhadap ilmu navigasi dan sains cuaca lah yang membawa perkembangan baru ke Indonesia yang waktu itu masih disebut Hindia Timur. Peradaban sains dunia umumnya terletak di belahan bumi utara (Eropa Timur, Amerika Utara, Asia Timur Laut). Belahan bumi selatan hampir tak dikenali sampai Frederick de Houtman, saudara dari Cornelis de Houtman, menerbitkan katalog bintang [3]. Peneliti terkagum pada kekayaan informasi yang didapat dari katalog ini, yang kemudian memotivasi sejumlah astronom amatir untuk mencoba keberuntungannya di tanah koloni [4]. Salah satunya adalah Pastor Johan Mauritz Mohr yang membangun observatorium pribadinya di Batavia. Dia menerbitkan beberapa artikel ilmiah dari kegiatannya sekitar tahun 1760 (Voute, 1933) [5]. Namun, peneliti-peneliti amatir ini hampir semuanya merupakan warga Eropa, karena tidak ada pribumi yang diizinkan masuk ke komunitas eksklusif ini untuk jangka waktu yang cukup panjang [6].

Meski mengalami banyak masa sulit, astronomi kearifan lokal masih hidup di tangan beberapa kerajaan yang berhasil bertahan. Gelar astronom kerajaan masih lestari pada masa ini, dan pada tahun 1855 Kerajaan Surakarta merilis almanak pranotomongso (Hidayat, 2000). Namun, selain dari kasus-kasus langka ini, pemerintah setempat cenderung tidak menganggap penting bidang ini karena masalah yang disebabkan dari ketiadaan pengamatan yang layak dianggap merupakan ‘urusan Belanda’ (van Klingen, G. A., 2013).

Alasan praktis yang membuat Belanda begitu kukuh melangsungkan penelitian di wilayah Indonesia tidak berbeda dari alasan yang mendorong leluhur kita mendalami astronomi: dengan pengamatan yang layak, dapat dibuat peta maritim yang lebih akurat untuk melancarkan pelayaran (Hassbroek, 1977). Karena keperluan ini pula, kebanyakan penelitian dan catatan yang dihasilkan pada masa ini ditulis oleh insinyur sipil atau ahli geografi. Bahkan, sikut-sikutan dan persaingan yang sempat terjadi di Observatorium Leiden untuk mendapat posisi di Batavia bermula dari masalah topografis yang dapat diselesaikan melalui metode triangulasi yang membutuhkan pengamatan astronomi.

Agar dapat menjalankan penelitian yang layak, para ilmuwan Eropa menyadari bahwa mereka membutuhkan lokasi permanen. Situasi di garis khatulistiwa amat berbeda dengan yang biasanya mereka temui. J. G. E. G. Voute, seorang insinyur sipil, menerima usulan ini dengan antusias setelah bekerja sebagai penjaga waktu di Kantor Meteorologi Batavia (Hidayat, 2000). Ide ini juga didukung oleh KAR Bosscha, juragan kebun teh Malabar yang senang menyumbang untuk proyek penelitian sains [7].

Akhirnya, pada tahun 1920, Asosiasi Astronomi Hindia Belanda dibentuk. Observatorium Bosscha resmi hadir pada tahun 1923. Pensiunan direktur Observatorium Leiden, Profesor van de Sande Bakhuysen, menyumbangkan perpustakaan pribadinya untuk dijadikan dasar koleksi perpustakaan Observatorium Bosscha. Pada tahun 1928, pembuatan teleskop refraktor ganda buatan Carl Zeiss selesai dan teleskop ini menjadi instrumen utama dan paling ikonik dari Observatorium Bosscha hingga saat ini [8].

Meskipun banyak aral melintang dikarenakan masalah internal yang dialami universitas dan institusi yang terlibat dalam Asosiasi Astronomi, kiprah observatorium baru ini dengan cepat melesat. Pada saat yang sama, perhatian komunitas tengah teralihkan pada pembangunan observatorium di Johannesburg, tapi hasil penelitian Voute tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak astronom muda dan mapan datang berkunjung dan memulai penelitian bergengsi di Bosscha. Hingga hari ini, Observatorium Bosscha menyimpan sejumlah koleksi buku langka dalam bahasa Belanda, Prancis, dan Spanyol termasuk catatan pribadi dan arsip penelitian dari peneliti asing, sebuah gudang harta karun untuk penelitian sejarah mendalam. Beberapa nama peneliti yang berjasa dalam perkembangan observatorium di kemudian hari diabadikan sebagai nama bangunan dan peralatan di Bosscha.

Diantara para peneliti tamu, Wallenquist begitu terpana akan Bosscha. E van Albada-van Dien menulis pada tahun 1994 mengenai bantuan Wallenquist memintakan dukungan dari UNESCO berupa sebuah teleskop baru. Teleskop ini kemudian menjadi saksi birokrasi Indonesia yang rumit berbelit.

Serangan Jepang (1942-1945 M): Jatuh Bangun

Masa-masa Perang Dunia Kedua membawa bencana serius pada Observatorium Bosscha. Masasi Miyadi dikirim oleh Jepang untuk mengambil alih Observatorium Bosscha dari Dr. De Sitter. Untungnya, Miyadi menyadari pentingnya situs yang ditugaskan padanya, sehingga dia mengembalikan posisi beberapa peneliti. Sayangnya, perang yang semakin memuncak menghambat proses penelitian. Beberapa peneliti bahkan diringkus sebagai tahanan perang. Akhirnya, semua proyek terhenti dan observatorium harus dikosongkan. Tanpa ada yang merawat, kondisi peralatan penelitian terus menurun hingga tahap yang memprihatinkan. Dr. C. Hins yang pada tahun 1946 dikirim dari Holland untuk merevitalisasi Observatorium Bosscha mencatat bahwa wilayah ini tak ubahnya hutan rimba ketika Ia tiba (Hidayat, 2000).

Ada anekdot turun temurun di kalangan mahasiswa Astronomi ITB yang bertugas di Bosscha yang menyatakan bahwa penduduk lokal membantu menjaga koleksi lensa observatorium pada masa serangan udara. Cerita ini menguatkan hubungan Observatorium Bosscha yang selalu berada di tengah masyarakat sekitarnya, sebuah identitas yang membelenggunya di masa depan.

Kelahiran Indonesia (1945-1956): Kelahiran Pendidikan Tinggi Astronomi

Pertempuran tidak selesai begitu Proklamasi Kemerdekaan dibacakan. Dalam tahun-tahun menjelang, kota-kota besar di Jawa masih menjadi medan perang dalam proses perebutan kekuasaan. Bandung salah satunya. Pertempuran Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946 begitu terkenang hingga menjadi lagu yang pasti dikenal tiap murid sekolah. Dalam situasi panas seperti ini, penelitian dan pendidikan menjadi prioritas nomor sekian. Kondisi tidak kondusif untuk proyek serius, apalagi karena Observatorium Bosscha masih membutuhkan banyak perbaikan untuk bisa digunakan kembali. Baru pada tahun 1949 Observatorium Bosscha benar-benar selesai direnovasi dan dapat berfungsi sepenuhnya. Namun, sebelum itu terjadi, ada perkembangan baru.

Masa-masa pascaperang menyadarkan M. Th. Leeman, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, bahwa diperlukan pendidikan tinggi astronomi (Hidayat, 2000) setidaknya untuk meneruskan Observatorium Bosscha. Indonesia tidak mungkin terus menerus mengandalkan peneliti asing untuk memajukan bidang astronomi. Pada masa ini peneliti-peneliti Bosscha perlahan telah kembali ke negara asalnya, baik terpaksa maupun tidak.

Pada tahun 1947 Program Studi Astronomi secara resmi ditawarkan di bawah fakultas Leeman. Astronom yang tersisa di Observatorium Bosscha secara bergiliran mengajar kelas-kelas di Universitas Indonesia. Program studi ini kemudian dipindahkan ke bawah Institut Teknologi Bandung bersama seluruh fakultasnya dan menjadi program Astronomi pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang ditawarkan pada jenjang S1 hingga saat ini.

Namun, tahun 1951 yang dipilih sebagai ulang tahun resmi sebagai peringatan diangkatnya Dr. G. B van Albada sebagai profesor pertama di Program Studi Astronomi dan perubahan status Observatorium Bosscha dari lembaga swasta Belanda menjadi lembaga negeri Indonesia (Wiramihardja, 2012). Nama van Albada kemudian digunakan sebagai nama salah satu bangunan di Observatorium Bosscha. Meski demikian, hubungan Observatorium Bosscha dengan Belanda tidak serta-merta putus. Sebuah institusi bernama Leids Kerkhoven-Bosscha Fonds menjadi pendukung penelitian Observatorium Bosscha dan Program Studi Astronomi hingga hari ini (Mahasena, 2012).

Kurikulum Program Studi Astronomi awalnya mengikuti tradisi pendidikan tinggi Belanda, namun kemudian bergeser mengikuti gaya Anglo-Saxon yang dipertahankan hingga sekarang. Yang tidak berubah adalah kedekatannya dengan Observatorium Bosscha. Ragam kegiatan kuliah dan praktikum diadakan di Bosscha, dan ketika Himpunan Mahasiswa Astronomi terbentuk sekretariatnya juga terletak di Bosscha. Alumni Program Studi Astronomi seringkali pulang kembali untuk bekerja dan mengajar generasi baru di Bosscha, melengkapi rantai regenerasi. Selagi Indonesia merangkak mencari jati diri, begitu pun Program Studi Astronomi ITB.

Kita dapat mengakhiri masa ini dengan sebuah kisah menarik: teleskop UNESCO yang disebutkan sebelumnya melalui banyak masalah finansial dan birokrasi sebelum akhirnya berhasil diwujudkan. Namun, pada tahun 1954 ketika tinggal dua tanda tangan yang dibutuhkan, kontrak itu dibiarkan tak selesai. Dikutip dari paper van Albada-van Dien (1994), “Semua anggota Dinas Pendidikan di Jakarta yang terlibat dalam kontrak menyatakan kepuasan akan tawaran tersebut. Namun kontrak itu tidak ditandatangani. Butuh waktu bertahun-tahun bagi kami untuk menemukan alasannya. Pada tahun 1955, setelah cuti, kami sempat hampir memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia kecuali kontrak berhasil ditandatangani. Akhirnya, seorang asisten dosen di Bandung menemukan alasannya: kedua pejabat di Jakarta yang harusnya menandatangani kontrak tersebut tidak memiliki hubungan baik dan menolak bicara satu sama lain! Kami melalui hambatan itu dengan mengantarkan kontrak itu secara langsung dari satu pihak ke pihak yang lain. Sudah Juni 1956 ketika hal ini terselesaikan.”

Perang Dingin, Balapan Antariksa (1957-1969): Tunas dan Bibit

Uni Soviet meluncurkan Sputnik pertama kali pada tahun 1957 dan menempatkan Yuri Gagarin sebagai orang pertama di luar angkasa pada tahun 1961, mengalahkan Amerika Serikat pada Perang Dingin. Pengumuman-pengumuman ini membakar jenggot pihak Amerika dan dana penelitian digelontorkan besar-besaran untuk NASA. Berkat hal ini, Amerika berhasil menyelamatkan muka dengan pendaratan Neil Armstrong di bulan pada tahun 1969, menghasilkan sebuah momen bersejarah yang tak hanya monumental namun juga ikonik.

Sementara itu di Indonesia, demam angkasa menyerang selagi Orde Lama berkuasa dan tumbang. Persaingan antara Uni Soviet dan Amerika membangkitkan ketertarikan dunia terhadap penjelajahan angkasa, sehingga pemerintah pun akhirnya memutuskan bahwa Indonesia perlu turut serta. Apalagi, negara-negara lain di Asia termasuk India sudah lebih dulu maju. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dibentuk pada tahun 1962 dengan dua proyek pertama berafiliasi dengan ITB dan Angkatan Udara. Meskipun tidak fokus sepenuhnya pada Sains Astronomi, LAPAN tetaplah merupakan lembaga yang penting di bidang ini. Saat ini LAPAN memiliki empat ranah utama, yakni Aeronautika dan Teknologi Antariksa, Penginderaan Jauh, Sains Atmosfer dan Antariksa, serta Studi Kebijakan Aeronautika dan Antariksa.

Lulusan-lulusan awal Program Studi Astronomi melanjutkan pekerjaan di Bosscha. Pada masa ini, Astronomi masih merupakan jurusan yang asing dan eksotis bagi siswa SMA. Seringkali cuma ada satu mahasiswa dalam satu angkatan. Ide pembentukan Himpunan Mahasiswa terasa janggal, namun akhirnya terwujud dengan anggota awal di bawah sepuluh orang. Sepanjang dua dekade pertama hampir semua kegiatan dilakukan bersama-sama dengan jurusan lain di FMIPA ITB (Himastron ITB, 2005). Ada usulan untuk membuka Program Studi astronomi lain di UGM dengan spesialisasi astronomi radio, namun usulan ini tidak pernah ditindaklanjuti (Hidayat et al., 2016).

Orde Baru (1966-1998): Harapan dalam Kegelapan

Tahun 1965 menandai kudeta Soeharto sekaligus melintasnya komet Ikeya-Seki. Bapak proklamasi Soekarno meninggal pada tahun 1970 bersamaan dengan hadirnya komet West. Warga berbondong-bondong menanyakan kaitan kejadian-kejadian ini pada para ilmuwan (Hidayat, 2000). Himpunan Astronomi Indonesia dibentuk pada tahun 1977 untuk mengakomodasi dan menyebarkan ketertarikan terhadap Astronomi pada masyarakat luas di luar kelompok peneliti. Komunitas ini menjadi kunci masuknya Indonesia ke Persatuan Astronomi Internasional (Yamani, 2011). Semenjak itu, perkumpulan pemerhati astronomi menjadi semakin umum dan komunitas-komunitas kecil dapat ditemukan dengan mudah di seantero negeri.

Program Studi Astronomi dikejutkan oleh jumlah mahasiswa 25 orang untuk angkatan 1982. Akhirnya, Himastron mempunyai tenaga yang cukup untuk menjalankan proyek-proyek yang lebih besar (Himastron ITB, 2005). Namun, memanasnya kondisi politik mempengaruhi Himastron sebagai bagian dari ITB. Pendudukan militer di kampus serta maraknya aksi demonstrasi mengganggu masa pembelajaran di akhir Orde Baru. Terlebih, kegagalan misi Challenger pada tahun 1986 menurunkan minat terhadap penjelajahan antariksa dan menghambat perkembangan baru. Observatorium Bosscha yang dulunya gagah menelurkan penelitian penting pun jatuh bangun di bawah dukungan pemerintah yang berkisar antara seadanya dan tidak sama sekali.

Zaman Reformasi (1999-sekarang): Menuju Masa Depan

Dua dekade terakhir merupakan masa yang menggembirakan dalam ilmu pengetahuan. Pergerakan cepat di bidang teknologi, terutama tersedianya keping elektronik yang semakin kecil dan kuat, membawa kesempatan-kesempatan baru. Dalam dunia akademis, munculnya teknologi komputasi yang terjangkau dan mudah diperluas mengubah cara penelitian. Banyak observatorium di luar negeri kini diperlengkapi dengan lengan robot dan fitur akses jarak jauh, tidak lagi menggunakan desain mekanis. Namun, Observatorium Bosscha tetap menggunakan konfigurasi lama karena renovasi dan pembaharuan perlengkapan akan membutuhkan biaya sangat besar. Peralatan yang lebih baru disesuaikan untuk bekerja dengan peralatan lama atau dipasang di lokasi yang baru.

Sains komputasi dan simulasi komputer diajarkan dengan porsi lebih di Program Studi Astronomi bersamaan dengan sesi pengamatan tradisional. Pergeseran ini juga terjadi akibat peningkatan polusi cahaya di daerah Lembang. Dulunya daerah terpencil, Lembang telah bertransformasi menjadi lokasi pariwisata anyar. Resort, tempat rekreasi, hotel dan restoran mahal mengepung lahan observatorium. Bosscha sendiri pun tak lepas dari turis. Kesuksesan film Petualangan Sherina yang dirilis pada tahun 2000 dengan menampilkan Kupel dan Teleskop Zeiss membawa nama Observatorium Bosscha ke tengah ruang keluarga. Sejak saat itu, banyak orang salah mengira bahwa Bosscha adalah tempat wisata komersil. Meskipun Bosscha memang memiliki misi edukasi publik, masuknya pengunjung tanpa izin dan rombongan ramai yang tak selalu bersedia diatur kadang menimbulkan distraksi bagi mahasiswa dan peneliti.

Mencoba menyeimbangkan posisi antara menjadi pusat komunitas dan institusi sains mumpuni dengan sumber daya manusia dan modal terbatas membuat Bosscha terjepit pada situasi sulit (Epifania dan Mumpuni, 2009). Setelah lebih dari 90 tahun melayani astronomi Indonesia, pertimbangan panjang menghasilkan putusan bahwa observatorium yang baru sebaiknya dibangun untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan yang tak mampu dipenuhi Bosscha (Mahasena et al., 2009). Pemerintah Indonesia menyediakan lahan di Kupang untuk proyek ini. Ini tidak berarti Observatorium Bosscha akan mati. Masih banyak penelitian besar yang dijalankan, dan berkat ketenarannya di kalangan umum, ada harapan bahwa di masa depan Bosscha akan berperan lebih dalam pendidikan dan diseminasi informasi, mungkin dengan beralih fungsi menjadi sebuah museum (Malasan, 2015).

Dengan meredanya ingar-bingar Orde Baru, ada ranah pendidikan sempat jadi sorotan. Sains populer menjadi tren. Komunitas dan klub pengamat langit dapat ditemukan dengan mudah baik di kota besar maupun kecil. Sebuah planetarium dibuka di Kutai pada tahun 2002. Munculnya situs web dan forum diskusi daring yang dijalankan oleh astronom komunikator dan astronom amatir yang antusias sebagai dampak dari modernisasi membawa astronomi kembali ke tengah masyarakat. Bagi Program Studi Astronomi pun, perlahan tapi pasti jumlah peminat meningkat. Kesempatan menjadi astronom sudah tidak lagi terikat dengan Bosscha.

Program Studi Astronomi kini terbagi atas tiga Kelompok Keilmuan (Galaksi dan Kosmologi, Fisika Bintang, dan Tata Surya) dan  secara aktif mendukung pendidikan umum dengan keterlibatannya dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) sejak tahun 2004 (Kunjaya, 2012), inisiatif seperti UNAWE (Universe Awareness), dan secara rutin turut turun menawarkan opini ahli dalam pengamatan hilal tahunan. Saat ini kebanyakan mahasiswa Astronomi sudah mendapatkan paparan akan lingkup dan materi bidang ini sebelum masa kuliah, seringkali melalui OSN yang disebutkan sebelumnya.

Globalisasi mendukung bertumbuhnya ide-ide baru melalui pertukaran pemikiran yang lebih cepat. Program Studi Astronomi mendukung partisipasi mahasiswa dalam program pertukaran pelajar, sekolah musim panas dan musim dingin, serta kegiatan-kegiatan lainnya dalam taraf internasional (Wiramihardja, 2012). Program-program ini memberi kesempatan pada mahasiswa untuk mengasah keterampilan mengoperasikan peralatan yang belum tersedia di Indonesia, mengakrabkan diri dengan situasi iklim dan medan langit berbeda, serta bereksperimen dengan metoda-metoda baru. Diharapkan, mahasiswa dapat pulang membawa pengetahuan berharga untuk memajukan riset di negeri sendiri.

Di tengah gempuran inovasi teknologi tiada henti, era ini juga membawa luapan ketertarikan terhadap romantika masa lalu. Bersama dengan budaya riset lintas bidang, ada pula kenaikan minat terhadap arkeoastronomi dan etnoastronomi, dua subtopik yang lekat dengan semangat yang ingin dibawakan tulisan ini. Namun, dalam era ini juga pula ilmu Astronomi seolah semakin terceraikan dari kalangan awam. Dari ketertarikan universal manusia untuk mengenal semestanya, langit menjadi semakin asing bagi penduduk perkotaan akibat polusi cahaya dan diskusi tentang astronomi dengan mudah bergeser ke arah teori fisika rumit dan teknik-teknik komputasi canggih yang terkesan hanya untuk ranah orang-orang tertentu.

Penutup

Astronomi bukanlah ilmu asing sama sekali, malahan sangat dekat dengan kehidupan nyata. Astronomi di Indonesia dijunjung dan dijaga keberadaannya oleh sejumlah nama, menyeimbangkan antara pendidikan masyarakat dengan penelitian ilmiah dengan sumber daya terbatas. Pada masanya, Indonesia pernah menjadi garda terdepan dalam bidang ini, meski kini cahayanya meredup dimakan waktu [9].

Bertahun-tahun terjebak dalam carut-marut pertarungan politik internal menurunkan fokus terhadap sains dan teknologi, sehingga calon astronom sulit tertarik untuk betah di Indonesia jika ingin tetap melanjutkan dalam jalur keilmuannya. Negara-negara lain di Asia terus berpacu dan bergiliran tampil di muka, namun kegigihan Indonesia untuk bertahan terlepas dari segala masalah dapat menjadi faktor unik yang membawanya kembali ke atas. Meski seringkali terdengar laporan bahwa orang-orang cerdas Indonesia memilih untuk bekerja di luar negeri, banyak paper yang menunjukkan bahwa astronom Indonesia di luar negeri tak lupa pada tanah air. Mereka masih bekerjasama dalam penelitian dan publikasi dengan peneliti lokal. Sejumlah peneliti kemudian mengabdikan hidup mereka untuk terus belajar dan mengajar, meneruskan ilmu pada para pejuang muda, dan mendobrak batas-batas penelitian yang bisa dihasilkan di Indonesia. Ketertarikan baru terhadap arkeoastronomi dan etnoastronomi membuka jalan untuk penelitian lintas bidang di masa mendatang, sehingga bidang ini akan terus hidup dan jaya. Wayne Orchiston (2017) mengidentifikasi beragam topik lama dan baru sebagai prospek penelitian di masa mendatang. Selagi imaji masih membumbung ke langit, manusia yang sejatinya terakar pada bumi pun mampu mengungkap secuplik rahasia semesta.

Catatan

[1] Arsip video tersebut dapat ditemukan di YouTube, diunggah atas izin dari kepala proyek Dr. Hakim L. Malasan. “Indonesian Starlore”. https://www.youtube.com/watch?v=AY5nlJoSB6I

[2] Sistem kalender sama kayanya dengan budaya yang hidup dan berkembang di tanah ini. Ada kalender berdasarkan pergerakan matahari, bulan, campuran keduanya dengan bermacam versi dan tata cara perhitungan, ataupun kalender berdasarkan bintang atau asterisme tertentu (lihat Ammarell, 1987 dan Iragashi, 1997). Demikian pula dengan cerita rakyat tentang benda langit yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan setiap suku dan wilayah, dan kadangkala menjadi penanda bias kultural dan stereotipe yang dilekatkan sebuah suku pada suku-suku lainnya (lihat Ammarell dan Tsing, 2015).

[3] Masih diragukan apakah benar-benar de Houtman yang membuat katalog ini. Untuk rinciannya silakan baca Hidayat, 2000.

[4] Untuk ditambahkan di sini adalah peran dari The Royal Batavian Society of Arts and Sciences, komunitas elit pemuda Belanda.

[5] Observatorium Mohr sudah tidak ada, namun gambaran gedung ini dapat dilihat di galeri gedung Kupel, Observatorium Bosscha. Sebagian paper Mohr masih tersimpan di Universitas Amsterdam (Hidayat, Bambang & Malasan, Hakim & Mumpuni, Emanuel. (2017)).

[6] Ada artikel menarik mengenai topik ini dalam buku van Klinken, G. A. (2013), berjudul ‘Mengapa tidak ada Galileo Jawa’. Namun, pada saat esai ini dipublikasikan, pengarang belum mendapat akses naskah lengkap dari artikel tersebut.

[7] KAR Bosscha adalah sepupu Kerkhoven yang juga merupakan pebisnis kebun teh. Lahan Kerkhoven terletak di Gambung. Belakangan, Kerkhoven juga mendukung Observatorium Bosscha dan namanya diabadikan sebagai nama salah satu teleskop. Kerabat berpengaruh lain adalah Douwes Dekker, aka Multatuli, seorang pemikir Belanda yang bersimpati dengan kaum terpelajar Indonesia.

[8] Teleskop ini, dikenal dengan nama ‘Zeiss’, ditempatkan di kubah Kupel. Karena sebuah film terkenal yang rilis tahun 2000, kebanyakan orang mengira Kupel adalah keseluruhan Observatorium Bosscha, padahal nama ini merujuk pada kompleks luas berisikan rumah-rumah teleskop lain, asrama, dan kantor.

[9] Untuk diperhatikan bahwa Indonesia masih memiliki sejumlah peneliti terkemuka yang nama-namanya tercatat sebagai beragam benda langit sebagai wujud pengakuan terhadap karya-karya mereka.

Referensi

Ammarel, G, 1987, Sky Calendars of the Indo-Malay Archipelago, in “History of Oriental Astronomy”, G. Swarup, A. K. Bag, & K. Shukla (eds.), Cambridge University Press, Cambridge, pp. 241–247.

Ammarel, G and Anna Lowenhaupt Tsing, 2015, Cultural Production of Skylore in Indonesia, in “Handbook of Archaeoastronomy and Ethnoastronomy”, C. Ruggles (ed.), Springer, New York, pp. 2207–2214.

Epifania, Priscilla and Emanuel Sungging, 2009, Bosscha Observatory: Challenges as a scientific heritage of astronomy in Indonesia, Paper presented at the proceedings of the International Astronomical Union 5, doi: 10.1017/S1743921311002353, pp. 235–240.

Gompert, A, 1998, Sanskrit Mathematical and Astral Sciences of Ancient Java, in I. I. A. S Newsletter 16:23.

Hariawang, Irma I., Simatupang, Ferry M., Radiman, Iratius, 2010, Orientation of Borobudur East Gate Measured Against Sunrise Position During Vernal Equinox, Paper presented at the proceedings of the International Conference on Oriental Astronomy 7, National Astronomical Observatory of Japan, Tokyo.

Hidayat, B., 2000, Under a Tropical Sky: A History of Astronomy in Indonesia, Journal of Astronomical History and Heritage.

Hidayat, B., 2000, Indo-Malay Astronomy, in Astronomy Across Cultures: The History of Non-Wester Astronomy, H. Selin (ed.), Kluwer Academic Publishers, Dordrecht, pp. 371–84.

Hidayat, B., Malasan, H.L, and Mumpuni, Sungging, 2016, The Emergence of Astronomy and Astrophysics in Indonesia, in “The Emerging Astrophysics in Asia: Opening a New Window on the Universe”, T. Nakamura & W. Orchidstron (eds.), Springer, New York, pp. 329–356.

Himastron ITB, 2005, Perjalanan Himastron ITB 1965–2005, Himastron ITB.

Iragashi, T., 1997, Sidereal-lunar time reckoning in Nusantara: a brief comparison, in “Study on the Dynamics of the Frontier World in Insular Southeast Asia”, T. Kato (ed.), Center for Southeast Asian Studies, Kyoto, pp. 119–136.

Kunjaya, C., 2012, Extending Astronomical Education Via Astronomy Olympiad Activities, Paper presented at the proceedings of the Seminar Pendidikan Astronomi: 60 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia, ITB, Bandung, pp. 25–29.

Malasan, H., 2015, Initiative to Build an Astronomical Museum in Indonesia, Paper presented at the proceedings of the International Symposium on the NAOJ Museum (Japan), NAOJ, Mitaka, Tokyo, pp. 39–45.

Orchiston, W., 2017, Studying the History of Indonesian Astronomy: Future Prospects and Possibilities, Journal of Astronomical History and Heritage, 20, pp. 145–154.

Pramesti, D., 2009, Menggali dan Memperkenalkan Kisah Langit Asia Pada Dunia, Langit Selatan, 29 May 2009, Web, accessed on 13 Okt 2016. http://langitselatan.com/2009/05/29/menggali-dan-memperkenalkan-kisah-langit-asia-pada-dunia/

Putra, M., 2012, Pendidikan Astronomi di Indonesia Tahun 2001–2011, Paper presented at the proceedings of the Seminar Pendidikan Astronomi: 60 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia, ITB, Bandung, pp. 19–24.

T. Hidayat, et al., 2001, Buku Kenangan 50 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia, Penerbit ITB, Bandung.

Taufiqurrahman, E., 2015, 50 Tahun Himastron ITB: Jejak Pergerakan Mahasiswa Astronomi di Indonesia, Langit Selatan, 19 Oct 2015, Web, accessed on 13 Oct 2016. http://langitselatan.com/2015/10/19/50-tahun-himastron-itb-jejak-pergerakan-mahasiswa-astronomi-di-indonesia/

Voute, J., 1933, Ann. v.d. Bosscha Sterrenwacht, Volume 1, Gebrs. Kleijne & Co. NV, Bandung.

Wiramihardja, 2012, Sejarah Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia, Paper presented at the proceedings of the Seminar Pendidikan Astronomi: 60 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia, ITB, Bandung, pp. 13–18.

Yamani, A., 2008, Menggali Kekayaan Astronomi Dalam Kearifan Lokal, Langit Selatan, 11 June 2008, Web, accessed on 13 Okt 2016. http://langitselatan.com/2008/06/11/menggali-kekayaan-astronomi-dalam-kearifan-lokal/

Yamani, A., Jejak Langkah Astronomi di Indonesia, Langit Selatan, 2 Jan 2011, Web, accessed on 13 Okt 2016. http://langitselatan.com/2011/01/02/jejak-langkah-astronomi-di-indonesia/