Terinspirasi dari pembicaraan dengan teman-teman siang tadi, saya kian tergelitik menuliskan hal ini.

Semasa di bangku sekolah dasar, saya membuat sebuah janji pada diri sendiri. Saya tidak akan menyontek dan memberi contekan. Janji sederhana, memang, tetapi tetap menjadi sebuah pencapaian bagi saya ketika berhasil menyelesaikan 12 tahun pendidikan saya dengan tetap memegang janji itu.

Saya kini melanjutkan studi di sebuah kampus yang (katanya) terbaik bangsa, sebuah hal yang patut disyukuri karena terus terang saya menemukan banyak orang dengan beragam kepribadian dan latar belakang, orang-orang hebat dengan pikiran besar.

Ironisnya, saya justru bisa dengan tegas mengatakan saya di sini bukan karena kejujuran saya. Saya di sini karena berhasil meraih sekian poin nilai pada ujian tulis, dan di hari itu saya memupus harapan puluhan orang yang berharap mendapatkan bangku yang kini saya tempati di kampus.

Kita hidup di dunia yang mendewakan hasil, kawan. Atlanta, US, sempat dihebohkan oleh penemuan sebuah daerah yang memanipulasi nilai murid-muridnya secara masif karena mereka menilai bahwa penilaian yang mematok segalanya pada angka tanpa melihat proses sangat tidak adil. Bagi mereka, murid-murid mereka terus tumbuh dan berkembang di tengah hambatan yang mereka hadapi, namun tetaplah tak cukup untuk memenuhi target dari pemerintah yang demikian tinggi.

Di Indonesia, setiap tahun kita kenal kejadian yang mirip, yang bahkan lebih membuat miris lagi. Ujian Nasional adalah festival besar-besaran perayaan kebusukan sistem pendidikan di Indonesia. Berbeda dari kejadian di atas, di sini kita tidak lagi mengedipkan mata, tidak lagi merasa kaget atau malu. Mati rasa, pura-pura buta.

Jadi kenapa mesti mempertahankan kejujuran? Kenapa harus mendengar ejekan ‘cupu’ dan ‘sok suci’? Kenapa bertahan dengan prinsip hingga dijauhi kelompok? Yang jujur tak selalu maju. Yang jujur seringkali terpukul mundur.

Saya hanya bisa menuliskan apa yang tengah saya pikirkan.

Karena kejujuran itu bagian dari karakter. Karena kejujuran membuatmu berbeda dari orang lain. Karena kejujuran menentukan batas tipis sebuah perbedaan. Karena itu berarti kamu berhasil mempertahankan diri dari arus. Atau mungkin, ini keegoisan saya semata, bahwa orang yang patut dihargai adalah yang memilih menjadi diri ideal mereka tanpa butuh ‘hadiah’ tertentu.
Kejujuran itu memang tak ternilai!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *