Assignments, Misc

Kala Melanjutkan Pendidikan Jadi Jalur Pelarian

Ada banyak jalan yang dapat dipilih selepas status ‘mahasiswa’. Bekerja, membangun keluarga, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, dan kesemuanya bukan merupakan pilihan saling lepas. Hanya saja, setelah mengamati pilihan rekan-rekan maupun senior saya selama beberapa tahun, saya mendapati sebuah kecenderungan menarik: menjadikan pendidikan lanjut sebagai pelarian, pilihan aman ketika opsi lain tak terlihat menggoda.

Biasanya, mulanya adalah ekspektasi. Sebagian orang beruntung menemukan apa yang ingin dilakukannya selagi status ‘mahasiswa’ masih disandang. Sebagian lagi cukup mengikuti aliran hidup, mau dibawa ke mana tidak ambil pusing. Namun, kadangkala, tahun demi tahun berlalu hingga saatnya keringat menjadi ijazah dan toga, tapi hati masih merasa gamang akan masa depan. Sayang, menganggur lama bukan pilihan menyenangkan di tengah tuntutan keluarga dan masyarakat. Masa pencarian jati diri dianggap sudah selesai selama perjalanan menuju kelulusan.

Dalam kondisi seperti ini, dapat dimengerti bahwa di perguruan tinggi elit yang notabene dipenuhi mahasiswa yang cenderung memiliki catatan akademis baik sepanjang hidup, terus menjadi siswa adalah pilihan yang aman. Berjibaku dengan proses aplikasi beasiswa, terutama bila masa perkuliahan pun dapat dilalui dengan lancar, terasa lebih mampu dihadapi daripada terkatung-katung di pasar pekerjaan, baik menanggung malu terus-menerus gagal wawancara ataupun terjebak dalam karir yang tidak diinginkan. Kadang pula ada semacam ketakutan bahwa persiapan selama ini belum cukup, dan dunia akademis adalah dunia satu-satunya yang bisa ditangani dengan baik. Mengambil gelar lagi memungkinkan seseorang mendapatkan waktu ‘istirahat’, setidaknya dua tahun sampai pertanyaan yang sama harus dihadapi lagi.

Sebagai seseorang yang menyenangi proses pendidikan, saya tidak bermaksud mengatakan kuliah lagi adalah pilihan yang buruk. Ada banyak hal yang bisa menjadi pendorong mengambil gelar master. Belajar itu menyenangkan, terutama dalam bidang yang diminati. Mungkin yang bersangkutan memang berniat memasuki ranah kerja spesifik yang butuh pengetahuan lebih. Mungkin sudah terlanjur terpesona oleh ilmu. Namun, lari dari masalah tidak menyelesaikan masalah.

Bagi saya, fenomena ini cukup membuat miris, sebab hal ini mengesankan seolah jalur ini ‘mudah’. Sementara itu, tidak ada jaminan bahwa selepas lulus sudah ada jawaban untuk kegamangan yang dialami saat ini, padahal waktu dan uang sudah terkuras. Kita punya banyak orang terdidik yang justru kekurangan pengalaman hidup dan pengalaman kerja akibat terlampau lama bersembunyi dalam selubung akademis (padahal tidak ada niat juga untuk fokus menjadi akademisi). Patut disayangkan karena hal ini justru seringkali menimpa individu-individu berpotensi tinggi yang saya yakin dapat berkontribusi dalam banyak hal jika saja mereka dapat melampaui rasa takut mereka dengan dunia di luar ‘sekolah’.

Bagi pembaca muda yang belum menuai pertanyaan mengenai masa depan, saya menyarankan agar membiasakan diri untuk bereksplorasi sedini mungkin. Selagi masih dapat berlindung di bawah status ‘siswa’ dan ‘mahasiswa’, buatlah proyek. Ikuti lomba. Partisipasi dalam kegiatan. Carilah apa yang kamu inginkan. Memikirkan tentang masa depan yang sudah di depan mata dapat membuat nyali siapapun ciut, jadi mengapa tidak memanfaatkan kesempatan selagi ada waktu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *