Misc

Industri 4.0: Siaga atau Tiada

Perkembangan teknologi melaju dengan sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Baru beberapa tahun berlalu semenjak komputer mendapat tempat di rumah-rumah sebagai perangkat rumah tangga yang sama umumnya dengan televisi atau kulkas, kini kita diakrabkan dengan budaya serbapraktis serbaada melalui perangkat ponsel pintar murah meriah. Jaringan telekomunikasi nirkabel, barang mewah satu dasawarsa silam, sudah jadi kebutuhan sehari-hari. Badai perubahan ini pun menyapu lansekap industri dan bisnis tanpa pandang bulu. Dunia perbankan, pemerintahan, dan medis misalnya, ranah-ranah yang biasanya lamban dalam mengadopsi teknologi baru karena lebih mengedepankan kekokohan dan kestabilan, kini juga dipaksa mengikuti zaman. Jargon bermunculan, tiap-tiap usaha berlomba mencantumkan istilah IT anyar untuk unjuk gigi dari saingan. Selamat datang di Industri 4.0.

Industri 4.0 memayungi sejumlah riset terkemuka di bidang teknologi yang menjadi tren seksi bagi pelaku usaha dan seluruh konsumennya. Sebagian kecil topik yang tercakup adalah kecerdasan buatan, realita buatan, komputasi awan, perangkat daring (Internet of things), keamanan siber, serta big data. Sebagian riset ini memang tidak baru, namun baru kembali mendapat momentum dengan terobosan di bidang-bidang pendukungnya (misalnya peningkatan kemampuan komputasi dan murahnya fasilitas penyimpanan data). Sebab itu, jarak antara Industri 3.0 dan 4.0 bisa dikatakan cukup kabur, tidak seperti masa-masa sebelumnya.

Meski memuat embel-embel industri, serbuan konsep teknologi informasi dalam seluruh lapisan hidup ini tak pelak juga berpengaruh pada tatanan sebuah negara. Seperti juga revolusi industri (industri 1.0) yang mendorong perkembangan sistem kapitalisme, pandangan atas sistem tatanegara kemungkinan besar akan kembali bergeser pada era ini. Apa artinya ini bagi Indonesia? Sederhananya, negara pun kini berlaku tak ubahnya korporasi raksasa. Bila tak cepat-cepat berbenah diri, lambat laun lenyap ditelan waktu. Tulisan ini akan mencoba menunjukkan sebagian kecil dampak industri 4.0 dari kerangka analisis SWOT serta peran mahasiswa yang segera menjadi bagian dari angkatan kerja.

Strength (kekuatan)

Indonesia punya jumlah rakyat yang sangat besar dengan angkatan kerja potensial mencapai puncaknya dalam beberapa tahun ini. Apabila negara ini sanggup memaksimalkan 1% saja potensinya, menjadi macan Asia bukan sekadar impian masa lalu. Lihat saja India yang mampu mengubah citra dari negara miskin terseok-seok menjadi pusat ahli teknologi yang lumayan terpandang. Apalagi, ditambah sumberdaya Indonesia yang cukup melimpah. Posisi Indonesia yang strategis juga sudah diakui semenjak dahulu kala, dan menjadi lebih penting lagi pada peta pertarungan efisiensi sekarang ini.

Weakness (kelemahan)

Pendidikan dan infrastruktur yang tidak merata diakibatkan oleh lamanya pemerintahan Jawa-sentris serta luas daerah yang dimiliki. Selain itu, kemiskinan yang masih merajalela di banyak tempat menjadikan kebutuhan akan ilmu, apalagi teknologi informasi, prioritas nomor sekian. Masyarakat kita masih dimanjakan oleh gaya panem et circuses, mengedepankan urusan perut dan hiburan, ketimbang wawasan, terlihat dari minat baca yang rendah. Rasa takut diselingi sindrom inferioritas kadangkala meruncing menjadi kecenderungan untuk menolak teknologi. Makin perlu perhatian apabila kita pertimbangkan bahwa dalam rancangan silabus dan kurikulum yang sempat diajukan sebelumnya, pelajaran teknologi informasi dan komunikasi justru diajukan untuk dihilangkan dari jenjang sekolah dasar!

Opportunity (kesempatan)

Keberadaan Indonesia sebagai lahan gembur talenta berkualitas telah tercium oleh banyak pemain besar dari mancanegara. Meniru negara-negara lain yang telah lebih dulu bergerak, inilah waktunya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari proses alih teknologi, meningkatkan mutu angkatan kerja negeri sendiri. Selain itu, penghilangan batasan geografis akibat globalisasi memungkinkan produktivitas tenaga kerja Indonesia meraih pasar lebih luas.

Threat (ancaman)

Keberadaan perjanjian internasional seperti MEA dapat menggerus kesempatan pemuda-pemudi apabila tak cukup bekal bersaing. Bila ini terjadi, niscaya Indonesia hanya terus menjadi negara konsumen yang tak mampu berdiri sendiri. Diiming-imingi peningkatan kualitas hidup, angkatan kerja bermutu akan terserap keluar sehingga tidak dapat membantu pembangunan dalam negeri (brain drain). Dengan globalisasi, batasan antarnegara semakin tipis sehingga rasa nasionalitas tidak menjadi sepenting dahulu. Indonesia harus mampu menyajikan diri sebagai lokasi yang layak ditempati, tidak cuma bergantung pada ikatan darah dan keterbatasan mobilitas.

Berdasarkan pembahasan singkat di atas, terlihat bahwa mengabaikan fenomena ini berarti mengucap selamat tinggal pada negeri. Negara ini membutuhkan talenta-talenta multidisiplin lebih dari sebelum-sebelumnya, tenaga-tenaga yang lincah berpikir dari beragam sudut pandang, dan tidak takut akan teknologi. Meskipun perguruan tinggi seperti ITB mencoba menyuplai tenaga ahli yang secara spesifik menjembatani antara pelaku usaha dan pelaku teknologi (melalui program studi Sistem dan Teknologi Informasi) misalnya, pelajar dalam bidang apapun (baik pertanian, politik, seni budaya, dan lain-lain) juga kini dituntut untuk mampu berkenalan dengan teknologi informasi. Teknologi informasi sudah bukan milik penggiat informatika saja, pun bukan monopoli kaum akademisi.

Namun, meski terdengar sangar, patut dicatat pula bahwa terlepas dari segala jargon mewahnya, Industri 4.0 mestilah disikapi layaknya fenomena-fenomena besar yang pernah terjadi: dengan bijaksana dan hati-hati. Di balik teknologi pemilihan suara elektronik, keterbukaan informasi, dan lain sebagainya, di belakangnya tetaplah masyarakat yang mendambakan sistem pemerintahan bersih, jujur, dan adil. Industri 4.0 hanya membukakan pintu bagi rakyat untuk mengakses informasi lebih banyak dan menentukan pilihan yang lebih baik bagi mereka.

Merdeka atau mati? Hadapi atau mati!

-versi 1.0 untuk tugas Kapita Selekta STI. Pembaharuan akan dilakukan pada poin-poin argumen yang masih kabur dan kurang padu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *