Misc

Disrupsi dan Transformasi Digital

Dunia IT penuh dengan jargon, apalagi dewasa ini ketika perusahaan rintisan berbasis teknologi tengah bergairah. Bak jamur di musim hujan, semuanya menjual kata ‘disrupsi’. Teknologi kami akan mendisrupsi bidang ini! Kita tidak usah bicarakan berapa banyak yang berhasil memenuhi janji mereka, ataupun menyelidiki berapa banyak yang sungguh-sungguh percaya aplikasi mereka bisa mengubah dunia. Mari bicara soal konsep ‘disrupsi’ itu sendiri.

‘Disrupsi’ diartikan kamus sebagai ‘gangguan’, dan diartikan dunia perusahaan rintisan teknologi sebagai sesuatu yang dapat mengguncang sistem yang sudah ada (biasa disebut ‘bisnis konvensional’). Salah satu contoh yang terlihat dan terasa di Indonesia adalah layanan pesan-antar jasa (on-demand service) yang pertama dipopulerkan melalui ojek daring. Kini, masyarakat memanggil ojek tak hanya untuk jarak jauh, namun juga jarak dekat. Mahasiswa baru mulai tidak hafal jalur angkot, lebih mudah buka aplikasi ojek daring yang terintegrasi peta. Keluarga tak segan memesan antaran makanan untuk makan malam di rumah. Ojek bukan hal baru. Layanan pesan-antar makanan juga bukan hal baru. Namun, inovasi yang ditawarkan dengan basis teknologi menjadikan jasa-jasa ini mudah diakses dan harganya terjangkau (harga mesti ada yang membayar. Pihak sana sudah membakar dana besar untuk sampai di titik ini).

Ada yang menarik soal ‘disrupsi’ yakni lokalitasnya. Kondisi dan situasi setiap daerah berbeda, sehingga kebutuhannya pun berbeda. Masyarakat di Eropa dan Amerika menyambut ide penyewaan ruangan berbasis komunitas. Orang Indonesia tentu langsung mengenali ini sebagai rumah kos biasa. Apabila perusahaan rintisan serupa hadir di sini, kita takkan menganggap itu istimewa. Sementara itu, ketika Indonesia baru saja dimanja layanan ojek daring, masyarakat Eropa dan Amerika sudah terbiasa dengan kemudahan pemesanan transportasi.

Hal ini memungkinkan perusahaan-perusahaan rintisan mencuri ide dari suatu tempat untuk diimplementasikan di tempat lain, perlahan berkontribusi dalam diseminasi budaya. Lalu, ketika suatu teknologi sudah mengubah kebiasaan dan gaya hidup sedemikian rupa hingga orang-orang lupa bagaimana hidup tanpanya, kita mulai memasuki ranah transformasi digital. Transformasi digital bukan hanya penerapan IT atau biasa disebut digitalisasi. Lebih dari itu, transformasi digital merujuk pada sebuah fenomena kultural.

Bagaimana bisnis konvensional bertahan? Di tengah terpaan era baru ini, satu-satunya cara adalah terusĀ  berubah dan beradaptasi. Bisnis yang tidak sanggup mengikuti transformasi digital telah bertumbangan satu per satu, dan sebagian memilih menentang perusahaan rintisan IT dengan isu legalitas dan administratif. Mungkin di atas kertasĀ  hal ini dapat menghambat laju perubahan, namun konsumen pun tidak bodoh. Masyarakat akan memilih yang menurut mereka paling nyaman, dan seringkali bukan yang paling benar secara hukum dan etika. Jangan hanya menunggu diganggu. Jika ingin tetap hidup, saatnya maju menjadi sang pengganggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *