Rizal Mallarangeng, dalam skripsinya tahun 1990 untuk jurusan Ilmu Komunikasi UGM yang kemudian dicetak menjadi buku ‘Pers Orde Baru’, menuliskan paragraf berikut tentang kecenderungan media di tengah kerasnya persaingan pada paruh terakhir 1980-an:

“Masuk akal jika dalam situasi demikian pers nasional sangat rentan terhadap godaan ‘demi tujuan mempersetankan cara dan akibat’. Hanya demi menggetarkan dawai-dawai primitif (seks, sadisme, crime) dalam nada-nada yang sensasional dan vulgar agar dapat mencapai pangsa pasar yang luas, sikap kritis terhadap modal melunak dan ketakutan untuk mengikuti kebenaran berlangsung. Ini adalah sekadar contoh godaan yang akan terus melekat dalam kehidupan pers kita di masa datang. Secara singkat barangkali dapat dikatakan bahwa yang terjadi pada pers kita sekarang ini adalah makin kuatnya dorongan yang inheren dalam kapitalisme: kompetisi untuk menuju komersialisasi.”

Kini, tampaknya di sinilah kebanyakan media-media modern kita, yang dibangun di atas platform-platform yang lebih muda tiga dekade, masih berdiri. Masih bergantung pada judul sensasional dan pengalih perhatian untuk meraup pembaca. Ya, ini tahun 2016, dan media-media yang konon modern ‘kekinian’ dan mengaku gaul itu masih tak ubahnya media zaman orba.

Izinkan saya tertawa.

Mudahnya akses jaringan bagi khalayak ramai dan terbitnya jurnalisme warga (citizen journalism) seharusnya menjadi cambuk pelecut bagi pekerja pers dan pewarta berita, bukan alasan untuk menyajikan tulisan tak berisi pengemis angka kunjungan. Lucunya (lagi), dalam buku terbitan 1992 ini telah ada pula subjudul yang membahas masalah demikian, ‘antara news dan views‘.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *